Cinta Bernoda Darah : Halaman 1 (dari 11 halaman)

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)

Untitled

Puncak Gunung Thai-san yang menjulang tinggi di angkasa tertutup awan putih tebal yang bergumpal-gumpal mengelilingi puncak. Hampir selalu puncak Thai-san tetutup awan, kecuali pada musim panas, sekali waktu ada kalanya puncak Thai-san yang meruncing itu tampak dari bawah. Keadaan inilah yang menimbulkan dongeng di kalangan penduduk di sekitar kaki dan lereng gunung, bahwa puncak Thai-san merupakan anak tangga menuju surga! Dan bahwa hanya para dewa dan manusia setengah dewa saja yang dapat mendatangi puncak Thai-san.
Dongeng atau kepercayaan tentang kedua hal ini tidaklah terlalu berlebihan kalau diingat bahwa penduduk pegunungan amatlah tebal kepercayaannya akan para dewa yang menguasai seluruh permukaan bumi dan diingat pula akan keadaan puncak itu sendiri. Terlalu tinggi, terlalu sukar jalan mendaki puncak, terlalu dingin sehingga manusia biasa tak mungkin akan dapat mendaki puncak. Terlalu banyak bahayanya. Binatang buas, jalan yang amat licin, jurang-jurang yang curam, daerah-daerah yang mengeluarkan gas, dan hawa dingin yang membekukan darah dalam badan. Memang tak mungkin bagi manusia-manusia biasa, namun mungkin saja bagi manusia-manusia luar biasa, yaitu manusia-manusia yang memiliki kepandaian tinggi dan memiliki tubuh terlatih, yang kuat menghadapi semua tekanan, kuat pula mengatasi semua rintangan. Betapapun juga, jarang sekali terjadi puncak Thai-san dikunjungi orang pandai, karena selain perjalanan itu amat berbahaya, juga tanpa keperluan yang amat penting, apakah yang dicari di tempat yang sunyi itu? Pagi hari itu amat cerah. Awan putih yang berkelompok di sekitar puncak tampak berkilauan seperti perak di gosok, matahari membobol benteng halimun lembab, mencairkan segala kebekuan dan menghias ujung-ujung daun dengan mutiara-mutiara air embun berkilauan seperti hiasa anting-anting pada telinga dara jelita. Burung-burung berkicauan menyambut hari yang amat indah itu, dansegala yang berada di permukaan bumi seakan bergembira ria. Apakah gerangan yang menyebabkan Susana gembira dan indah ini ? Tidak mengherankan. Musim semi tiba, pagi hari itu adalah permulaan dari tahun yang baru! Musim yang tepat sekali untuk memulai segala sesuatu dengan awalan-awalan yang sama sekali baru! Buang yang lama-lama dan buruk-buruk, mulai dengan yang baru-baru dan yang indah-indah. Setidaknya, demikianlah harapan dan renungan setiap insane pada setiap tahun baru. Pada penduduk di sekitar kaki dan lereng gunung, semenjak pagi hari sudah sibuk berpesta, bergembira ria merayakan hari tahun baru. Pakaian-pakaian simpanan dikeluarkan dari peti, pakaian "setahun sekali" menghias tubuh, yang muda menghormati yang tua, yang muda minta maaf, yang tua memaafkan. Saling memaafkan, gembira tertawa, hilang dengki, alangkah nikmatnya hidup. Serombongan orang amat cepat gerak-geriknya amat ringan langkah kakinya, bergerak cepat mendaki puncak Thai-san. Kalau saja para penduduk tidak sedang bersuka ria dan sempat menyaksikan gerak-gerik lima orang yang bagaikan serombongan kera besar melompat kesana kemari, menyelinap di antara batu-batu besar dan pohon-pohon mendaki puncak, tentu akan makin tebal kepercayaan mereka bahwa serombongan dewa atau manusia setengah dewa yang mendaki puncak itu, untuk bertahun baru di sana!
Rombongan itu adalah para tosu dari Kun-lun-pai, termasuk tokoh-tokoh tingkat dua dan tiga di Kun-lun-pai, maka tidaklah mengherankan apabila mereka berlima sepandai itu mendaki puncak Thai-san. Tiba-tiba pemimpin rombongan, Ang Kun Tojin mengangkat tangan memberi isyarat dan seketika lima orang itu berhenti, diam tak bergerak seperti patung-patung dewa penghias gunung. Mereka semua telah mendengar suara yang halus itu. Suara nyanyian yang halus seperti bisikan angin lalu, bercampur dan menyelinap di antara desir angin mempermainkan daun dan dendang anak sungai di dasar jurang. Namun kakta-katanya jelas dapt tertangkap pendengaran telinga-telingan yang terlatih itu.

"Segala sesuatu yang menimpa diri pribadi adalah akibat dari pikiran sendiri. Pikiran kotor yang mendorong ucapan dan perbuatan selalu diikuti sakit dan penderitaan seperti roda kereta mengikuti jejak kaki penariknya. Pikiran bersih yang mendorong ucapan dan perbuatan selalu diikuti kepuasan dan kebahagiaan seperti bayangan yang tak pernah berpisah dari padanya."

Ang Tojin melambaikan tangan dan lima orang tosu itu melanjutkan perjalana mereka. Di wajah-wajah tua itu timbul semangat baru, timbul harapan dan kegembiraan. "Twa-suheng (Kakak Seperguruan Pertama), apakah itu suara beliau…..? tosu termuda, belum lima puluh tahun, bertahi lalt di ujung hidung, bertanya. "……sssstttttt……..!" Ang Kun Tojin menyuruh adik seperguruan termuda itu diam. Mereka melanjutkan pendakian dan tak seorang pun berani bertanya lagi. Sambil mempergunakan ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang khas Kun-lun-pai,

ke hal.2
 
Thank's to 41886 visitor Untitled
 
   kosong
  
Untitled
Untitled
Contact us : info@anelinda.com / 021-5370609 / 0815-8944279
Copyright ©1998-2011 anelinda.com All Right Reserved  Designed by: WebMaster-Indonesia.com