BUMI MANUSIA (Tetralogi Pramudya) : Halaman 1 (dari 2 halaman)

(1) (2)

Halaman Cerita : Bumi Manusia

    1
Orang memanggil aku : Minke (baca : Mingke). Namaku sendiri ... Sementara ini tidak perlu kusebutkan, bukan karena gila mysteri. Telah aku timbang: belum perlu benar tampilkan diri di hadapan mata orang lain. Pada mulanya catatan pendek ini aku tulis dalam masa berkabung: dia telah tinggalkan aku, entah untuk sementara entah tidak. (Waktu itu aku tak tahu bagaimana bakal jadinya).Hari depan yang selalu menggoda! Mysteri! setiap pribadi akan datang padanya- mau-tak-mau, dengan seluruh jiwa dan raganya. Dan terlalu sering dia ternyata maharaja zalim. Juga akhirnya aku datang padanya bakalnya. Adakah dia dewa pemurah atau jahil, itulah memang urusan dia: manusia terlalu sering bertepuk hanya sebelah tangan ...... Tiga belas tahun kemudian catatan pendek ini kubacai dan kupelajari kembali, kupadu dengan impian, khayal. memang menjadi lain dari aslinya. Tak kepalang tanggung. Dan begini kemudian jadinya :
    2
DALAM HIDUPKU, BARU SEUMUR JAGUNG, SUDAH DAPAT kurasai: ilmu pengetahuan telah memberikan padaku suatu restu yang tiada terhingga indahnya. Sekali direktur sekolahku bilang di depan klas: yang disampaikan oleh tuan-tuan guru di bidang pengetahuan umum sudah cukup luas; jauh lebih luas daripada yang dapat diketahui oleh para pelajar setingkat di banyak negeri di Eropa sendiri. Tentu dada ini menjadi gembung. Aku belum pernah ke Eropa. Benar-tidaknya ucapan Tuan Direktur aku tak tahu. Hanya karena menyenangkan aku cenderung mempercayainya. Lagipula semua guruku kelahiran sana, dididik di sana pula. Rasanya tak layak tak mempercayai guru. Orang tuaku telah mempercayakan diriku pada mereka. Oleh masyarakat terpelajar Eropa dan Indo dianggap terbaik dan tertinggi nilainya di seluruh Hindia Belanda. Maka aku harus mempercayainya. Ilmu dan pengetahuan, yang kudapatkan dari sekolah dan kusaksikan sendiri pernyataannya dalam hidup, telah membikin pribadiku menjadi agak berbedadari sebangsaku pada umumnya. Menyalahi wujudku sebagai orang Jawa atau tidak aku pun tidak tahu. Dan justru pengalaman hidup sebagai orang Jawa berilmu-pengetahuan Eropa yang mendorong aku suka mencatat-catat. Suatu kali akan berguna, seperti sekarang ini. Salah satu hasil ilmu-pengetahuan yang tak habis-habis kukagumi adalah percetakan, terutama zincografi. Coba, orang sudah dapat memperbanyak potret berpuluh ribu lembar dalam sehari. Gambar pemandangan, orang besar dan penting, mesin baru, gedung-gedung pencakar langit Amerika, semua dan dari seluruh dunia - kini dapat aku saksikan sendiri dari lembaran-lembaran kertas cetak. Sungguh merugi generasi sebelum aku - generasi yang sudah puas dengan banyaknya jejak-langkah sendiri di lorong-lorong kampungnya itu. Betapa aku berterimakasih pada semua dan setiap orang yang telah berjerih-payah untuk melahirkan keajaiban baru itu. Lima tahun yang lalu belum lagi ada gambar tercetak beredar dalam lingkungan hidupku. Memang ada cetakan cukilan kayu atau batu, namun belum lagi dapat mewakili kenyataan sesungguhnya. Berita-berita dari Eropa dan Amerika banyak mewartakan penemuan-penemuan terbaru. Kehebatannya menandingi kesaktian para satria dan dewa nenek-moyangku dalam cerita wayang. Kereta api - kereta tanpa kuda, tanpa sapi, tanpa kerbau, - belasan tahun telah disaksikan sebangsaku. Dan masih juga ada keheranan dalam hati mereka sampai sekarang! Betawi-Surabaya telah dapat ditempuh dalam tiga hari. Diramalkan akan cuma seharmal! (harmal=hari malam). Hanya seharmal! Deretan panjang gerbong sebesar rumah, penuh arang dan orang pula, ditarik oleh kekuatan air semata! Kalau Stevenson pernah aku temui dalam hidupku akan kupersembahkan padanya karangan bunga, sepenuhnya dari anggrek. Jaringan jalan kereta api telah membelah-belah pulauku, Jawa. Kepulan asapnya mewarnai langit tanah airku dengan garis hitam, semakin pudar untuk hilang dalam ketiadaan. Dunia rasanya tiada berjarak lagi - telah dihilangkan oleh kawat. Kekuatan bukan lagi jadi monopoli gajah dan badak. Mereka telah digantikan oleh benda-benda kecil buatan manusia: torak, sekrup dan mur.
Dan di Eropa sana, orang sudah mulai membikin mesin yang lebih kecil dengan tenaga yang lebih besar, atau setidaknya sama dengan mesin uap. Memang tidak dengan uap. Dengan minyak bumi. Warta sayup-sayup mengatakan: Jerman malah sudah membikin kereta digerakkan listrik. Ya Allah, dan aku sendiri belum lagi tahu membuktikan apa listrik itu. Tenaga-tenaga alam mulai diubah manusia untuk diabdikan pada dirinya. Orang malah sudah merancang akan terbang seperti Gatotkaca, seperti Ikarus. Salah seorang guruku bilang: sebentar lagi, hanya sebentar lagi, dan ummat manusia tidak perlu lagi membanting tulang memeras keringat dengan hasil sedikit.

ke hal.2
 
Thank's to 41888 visitor Untitled
 
   kosong
  
Untitled
Untitled
Contact us : info@anelinda.com / 021-5370609 / 0815-8944279
Copyright ©1998-2011 anelinda.com All Right Reserved  Designed by: WebMaster-Indonesia.com