AROK DEDES (Pramudya) : Halaman 1 (dari 5 halaman)

(1) (2) (3) (4) (5)

Untitled

TUMAPEL
Ia takkan dapat lupakan peristiwa itu pertama kali ia sadar dari pingsan. Tubuhnya dibopong diturunkan dari kuda, dibawah masuk ke ruangan besar ini juga. Ia digeletakan di atas peraduan, dan orang yang menggotongnya itu, Tunggul Ametung, berdiri mengawasinya. Ia tengkurapkan diri di atas peraduan dan menangis. Orang itu tak juga pergi. Dan ia tidak diperkenankan meninggalkan bilik besar ini. Gede Mirah menyediakan untuknya air, tempat membuat kotoran dan makanan. Matahari belum terbit. Lampu-lampu suram menerangi bilik besar itu. Begitu matahari muncul masuk ke dalam seorang tua mengenakan tanda-tanda brahmana. Ia tak mau turun dari peraduan. Tetapi Tunggul Ametung membopongnya lagi, mendudukkannya disebuah bangku yang diberi bertilam permadani. Ia tutup mukunya dengan tangan. Tunggul Ametung duduk di sampingnya. Orang dengan tanda-tanda brahmana itu telah menikahkannya. Hanya Gede Mirah bertindak sebagai saksi. Kemudian Tunggul Ametung meninggalkan bilik bersama brahmana itu. Sejak itu ia tidak diperkenankan keluar dari bilik besar ini. Semua berlangsung secara rahasia. Empat puluh hari telah lewat. Sekarang ini Gede Mirah meriasnya. Ia telah sampai pada riasan terakhir. Ia ingin kerja rias ini tiada kan berakhir. Dalam empat puluh hari ia telah bermohon pada Mahadewa agar melepaskannya dari kungkungan ini, mengembalikannya pada ayahnya tercinta di desa. Semua sia-sia. Hari yang ke empat puluh adalah hari selesainya wadad pengantin. Ia menggigil membayangkan seorang lelaki sebentar nanti akan membawanya ke peraduan. Dan ayahnya tak juga datang untuk membenarkan perkawinan ini. Ia sendiri juga tidak membenarkan. "Perawan terayu diseluruh negeri," bisik Gede Mirah. "Tanpa riasan sahaya pun tiada orang lain bisa menandingi." Bedak telah menutupi sebagian dari kepucatannya. Sekali lagi air mata merusakkan rias itu. "Jangan menangis. Berterimakasihlah kepada para dewa. Tak ada seorang wanita yang telah ditempatkan pada satu kedudukan oleh Yang Mulia Tunggul Ametung. Tak pernah Yang Mulia melakukan wadad kecuali hanya untukmu. Pernikahan itu takkan dapat dibatalkan. Yang Suci Belakangka adalah juga seorang brahmana sebagai ayahmu. Mantra-mantrannya sama mengikat dengan yang diucapkan oleh ayahmu." Dedes masih juga belum membuka mulut dalam empat puluh hari ini. Ia selalu terkenang pada ayahnya. Tanpa pembenaran dan restunya, semua hanya akan menuju pada bencana. Dan sebagai gadis yang terdidik untuk menjadi brahmani, ia tahu Tunggul Ametung hanya seorang penjahat dan pendekar yang diangkat untuk jabatan itu oleh Sri Kretajaya untuk menjamin arus upeti ke Kediri. Semua brahmana termasuk ayahnya, membencinya. Dua puluh tahun sebagai Tunggul Ametung pekerjaan pokoknya adalah melakukan perampasan terhadap semua terbaik milik rakyat Tumapel: kuda terbaik, burung terbaik, perawan tercantik. "Mari, Dara," dan ditariknya perawan itu berdiri dari duduknya. Dedes tetap tak bicara. Bedak dan mangir itu tak dapat menyembunyikan kepucatannya. Dada telanjangnya mulai ditutup dengan sutra terawang tenunan Mesir tipis laksana selaput kabut menyapu gunung kembar. Peniti pada seutas tali emas membikin sutra terawang itu menyangsang pada lehernya, sebagian menutup rambut. Dan tali emas itu sendiri kemudian dilibatkan tiga kali pada leher untuk kemudian jatuh pada perutnya. Selembar sutra berselang-seling benang emas dan perak terkaitkan pada kondai dengan tusuk kondai, jatuh melalui kuping kiri ke atas pundak "Mari, Dara," katanya lagi dan dipimpinnya Dedes sang cantik, sang ayu, sang segala pujian itu hendak meninggalkan bilik. Gedung pekuwuan itu dalam segala hal meniru istana Kediri, malahan nampak berusaha hendak mengatasi. Juga tatacara yang berlaku. Sepuluh tahun yang lalu Tumapel masih berupa desa sama dengan desa-desa lain. Kini gedung-gedung bermunculan seperti dari perut bumi. Tumapel berubah menjadi kota dan beratus desa bawahannya berubah jadi kumpulan gubuk dan pondok bobrok. Tunggul Ametung Tumapel melambung naik jadi raja kecil, dengan kekuasaan tanpa batas, hanya takluk pada Kediri. Dua orang pengawal, mendengar gerincing giring-giring, membuka tabir berat dari potongan rantung bambu petung, menghentakkan pangkal tangkai tombak sebagai penghormatan, membungkuk tanpa memandang pada Dedes. Gede Mirah menyerahkannya pada rombongan wanita pengiring yang langsung menyerahkannya pada Yang Suci Belakangka, Pandita Negeri Tumapel. Semua menunduk mengikatkan pandang pada lantai. Juga Dedes. Hanya Sang Suci mengangkat muka, memimpin semua meninggalkan keputrian menuju ke pendopo pekuwuan. Iringan itu merupakan permainan warna dalam siraman sinar matahari sore. De depan sendiri Dedes dalam intan baiduri gemerlapan. Rambutnya dimahkotai dengan pita emas dengan matahari intan bertaburan pada kening. Kulit tubuhnya yang dimangir kuning muncul dari balik terawang sutra Mesir dengan sepasang buahdada seperti hendak bertanding dengan matahari. Yang Suci Belakangka mengenakan jubah hitam berkalung lempengan emas dengan hiasan dudul bergambar lambang serba Wysnu:

ke hal.2
 
Thank's to 41887 visitor Untitled
 
   kosong
  
Untitled
Untitled
Contact us : info@anelinda.com / 021-5370609 / 0815-8944279
Copyright ©1998-2011 anelinda.com All Right Reserved  Designed by: WebMaster-Indonesia.com